REKTOR UNISMA JABARKAN HAKEKAT MERDEKA BELAJAR

Merdeka belajar sebuah kalimat yang mudah diungkapkan namun tidak mudah untuk diterapkan. Jika tidak serius maka akan berdampak pada sesuatu yang merusak pada sistem pembelajaran itu sendiri. Hal itu disampaikan oleh Rektor Universitas Islam Malang (Unisma), Prof. Dr. Maskuri, M.Si dalam acara Webinar Nasional sekaligus Halal Bi Halal bersama Dirjen Guru dan Tendik Kemendikbud RI.

Menurut Rektor Unisma, implementasi merdeka belajar harus serius dengan persiapan konsep, strategi dan intrumen-instrumen yang menunjang terhadap efektifititas belajar. “Kalau tidak serius maka bahaya. Arahnya bisa merdeka segara mati atau merdeka untuk hidup,” ujarnya.

Prof. Maskuri mengatakan, merdeka belajar atau kampus merdeka merupakan konsep yang tepat diterapkan pada pendidikan di tengah dinamika global. Dan itu sangat ditentukan oleh sikap dan kualiitas guru atau dosen. Revolusi industri menjadi tantangan para akedemisi untuk meramu pendidikan yang berarah pada persiapan masyarakat menghadapi era digital dan society 5.0.

Rektor Unisma pun lebih lanjut menjelaskan, merdeka belajar erat kaitannya dengan ruang dan waktu. Kapan dan dimana anak belajar. Dalam Islam belajar tidak sekadar anjuran melainkan perintah yang hukumnya jatuh pada sesuatu yang wajib dilaksanakan. Tidak mengenal usia dan dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai agama serta menjunjung tinggi nilai persaudaraan sesama manusia.

“Belajar sepanjang hayat menjadi perintah spiritual dan manusiawi bagi seluruh manusia, masyarakat, komunitas dan organisasi yang tidak pernah mengenal berhenti. Pendidikan tidak boleh lepas dari nilai-nilai ilahiyah dan insaniyah,” terang Ketua Forum Rektor PTNU ini.

Dalam acara Webinar dan Halal Bi Halal tersebut, Unisma menghadirkan secara online Dirjen Guru dan Tendik Kemendikbud RI, Dr. Iwan Syahril, Ph.D, sebagai narasumber.  Dalam materinya Ia mengutip pernyataan Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara. Pendidikan adalah tempat penyemaian benih-benih kebudayaan. Hubungan pendidikan dan kebudayaan sangat erat. Dengan tujuan untuk membangun peradaban bangsa.

 Webinar dengan peserta mencapai 1500  dari berbagai daerah tersebut dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Yayasan Universitas Islam Malang, Prof. Dr. H. Yaqub Cikusin, M.Si. Turut bergabung sebagai pemateri Ketua Umum PPLP Maarif NU Indonesia KH Zainul Arifin Junaidi, MM.

“Saya yakin Unisma mampu menjadi kampus yang kreatif, inovatif dan reformatif, yang tidak hanya bisa menjawab tantangan zaman tapi juga memberikan tantangan zaman,” ungkapnya.