Informasi

APK Madrasah Terkendala Minimnya Anggaran

Jumat, 22 Mei 2015 - 08:42 WIB
Diposting oleh: pardiman - Kategori: Kampus

Alokasi dana untuk pendidikan agama yang berada dalam pengelolahan Kementrian Agama (Kemenag) RI dinilai masih sangat kurang. Bahkan jika dibandingkan dengan total alokasi dana pendidikan umum dalam Anggaran Pengeluaran dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp. 409 Triliyun, dana pendidikan agama hanya menyentuh 11 persennya saja.

Jika diperhatikan, dana senesar Rp. 409 Triliyun untuk pembiayaan pendidikan agama serasa mencekik kemenag. Pasalnaya, dana sebesar itu dipaksakan harus cukup mengcover tiga program pendidikan dibawah Kemenag.

Pertama, pendidikan umum dengan cirri khas keislaman seperti Madrasah Aliyah, Madrasah Tanwiyah, Madrasah Ibtidaiyah, dan Raudlatul Athfal. Yang kedua, pendidikan agama yang ada disekolah seperti pendidikan agama islam, Kristen, khatolik,hindu, dan budha.

Juga pendidikan keagamaan murni seperti pesantren, Taman pendidikan Qur’an (TPQ), sekolah minggu dan lain-lainnya itu telah menjadi tanggung  jawab Kemenag.

“ Nah ini yang sampai saat ini terus kami perjuangkan disetiap forum kementrian dan forum pemerintah lainnya. Karena alokasi yang saat ini ada itu benar-benar masih minim, “ ungkap Prof.DR.H.Nur Cholis MA. Direktur pendidikan Madrasah Kemenag RI  dalam acara kuliah tamu berjudul “ Peran Guru Pendidikan Madrasah dalam menghadapi MEA” di Aula Usman Mansoer.Rabu (13/5).

Selain membawa masalah kedalam forum, Cholis mengaku juga terus mendesak komisi  VIII DPR RI untuk segera bertindak atas ketidak adilan itu.

Kondisi sedemikian itu dirasa mendesak terlebih jika melihat Angka Partisipasi Kasar (APK) Madrasah sudah mulai meningkat di Indonesia. Bahkan untuk APK Madrasah Tsanawiyah menurut Cholis kini sudah mencapai 21,9 persen.

“Melihat yang demikian itu sangat tidak adil. Inilah yang selalu kami upayakan,” tegas Cholis.

Di akhir kuliah tamu, Cholis juga meminta kepada para audiens yang didominasi para guru madrasah untuk mengembangkan kemampuan terlebih menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).Menurutnya, pendidikan islam Indonesia memiliki pelang yang cukup besar karena adanya sebuah hasil penelitian dari Jerman yang cukup menakjubkan.

Menurut Cholis, berdasarkan penelitian itu, Indonesia dianggap sebagai Negara  yang memilikitumpuan tumbuh kembang islam di wilayah Timur. Selai karena jumlah penduduk islam yang paling banyak juga karena system demokrasi yang berjalan cukup baik di Indonesia.

“ Meski belum sepenuhnya baik, namun jika dibandingkan dengan Negara islam lainnya itu yang paling baik. Dan ini seharusnya menggiring optimism yang cukup besar bagi kita sebagai praktisi didunia pendidikan Islam,” pungkas Cholis.