Informasi

Kuliah Umum Perbankan Syariah di FE Unisma Rabu, 7 Desember 2016

Sabtu, 10 Desember 2016 - 12:53 WIB
Diposting oleh: Humas - Kategori: Kampus

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang mulai berlaku 1 Januari 2016 merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh Indonesia di berbagai sektor. Salah satunya, tantangan di bidang perbankan Syariah. Perbankan syariah diharapkan turut berkontribusi dalam mendukung transformasi perekonomian pada aktivitas ekonomi produktif, bernilai tambah tinggi dan inklusif, terutama dengan memanfaatkan bonus demografi dan prospek pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sehingga peran perbankan syariah dapat terasa signifikan bagi masyarakat. Melihat fenomena tersebut Fakultas Ekonomi Universitas Islam Malang bekerjasama dengan Bank Rakyat Indonesia syariah dan IAI Komisariat Malang Raya menyelenggarakan Kuliah umum perbankan syariah. Kuliah umum yang bertajuk  “Perbankan Syariah Dalam Perekonomian Global “ini digelar pada Hari Rabu tanggal 7 Desember 2016 bertempat di Ruang Seminar lantai 7 Pascasarjana Universitas Islam Malang dihadiri kurang lebi 500 peserta Kuliah Umum. Dalam Sambutannya Dekan FE Unisma Nur Diana SE, MSi mengatakan perkembangan global keuangan syariah Negara Indonesia telah memiliki kemajuan yang pesat, berdasarkan Global Islamic Financial Report ( GIFR)  tahun 2015 indonesia menduduki peringkat ke 7 dibawah Negara Arab Saudi dan Malaysia. Kedepan peringkat Indonesia Masih bisa ditingkatkan mengingat Indonesia merupakan Negara terbesar yang memiliki penduduk beragama Islam. Ini merupakan pasar potensial untuk mengembangkan bisnis keuangan syariah dan tidak mustahil kedepan Indonesia  diproyeksikan  menduduki peringkat pertama, Jika dilihat laju ekspansi  kelembagaan  dan akselerasi  pertumbuhan  aset perbankan syariah yang tinggi. Pemerintah juga turut mendukung diantaranya  telah dibentuk Komite Nasional keuangan syariah yang dilandasi bahwa perbankan syariah membawa maslahat bagi peningkatan  ekonom dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu dalam sambutanya Dekan FE Unisma juga menambahkan bahwa MEA sebagai wujud perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara akan memberikan peluang sekaligus tantangan bagi perekonomian Indonesia, tak terkecuali bagi industri perbankan syariah. Memang, tidak mudah mengembangkan keuangan syariah Indonesia untuk dapat bersaing dan beroperasi di lintas negara ASEAN mengingat industri keuangan syariah Indonesia merupakan pendatang baru jika dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia yang sudah lebih dulu mengembangkan ke uangan syariah. Apalagi, keuang­an syariah di negeri ini masih menghadapi berbagai kendala yang bisa menjadi penghambat pengembangan keuangan syariah di masa mendatang.

Acara dibuka oleh Bapak Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerjasama Prof. Junaidi Mistar, PhD yang mengapreasiasi kegiatan Fakultas ekonomi yang selalu “Running” dalam setiap semester. Mahasiswa jumlahnya “gemuk” ternyata membuat Fakultas Ekonomi Unisma juga semakin gemuk dalam kegiatannya” hampir setiap minggu  selalu mengadakan event besar dibidang Tridharma Perguruan Tinggi sehingga dapat memberikan wawasan yang sangat variatif kepada mahasiswa maupun dosennya. Dengan Ucapan “Bismillahirrohmannirrohim” Prof Junaidi Mistar PhD membuka acara Kuliah Umum yang ditunggu sangat antusias oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi Unisma. Yang menarik dalam Kuliah Umum ini mendatangkan narasumber Bpk. Erdianto Sigit Cahyono selaku Direktur Bisnis dan Mikro BRI Syariah . Dalam pemaparannya juga didukung oleh Kepala Cabang BRI Syariah Kota Malang dan Kepala Cabang BRI Syariah Mataram.

Perbankan syariah diharapkan turut berkonstribusi dalam mendukung transformasi perekonomian pada aktivitas ekonomi produktif, bernilai tambah tinggi dan inklusif, terutama dengan memanfaatkan bonus demografi dan prospek pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sehingga peran perbankan syariah dapat terasa signifikan bagi masyarakat. Semakin besar pertumbuhan perbankan syariah, maka akan semakin banyak masyarakat yang terlayani. Makin meluasnya jangkauan perbankan syariah menunjukkan peran perbankan syariah makin besar untuk pembangunan ekonomi rakyat di negeri ini. Perbankan syariah  seharusnya tampil sebagai garda terdepan atau lokomotif untuk terwujudnya financial inclusion.

Beliau mengungkapkan, di tahun 2016 akan diwarnai oleh tingkat kompetisi bisnis jasa keuangan yang semakin ketat, karena mulai berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dimana untuk industri perbankan hal ini tertuang dalam ASEAN Banking Integration Framework (ABIF). Semakin sengitnya persaingan di industri jasa keuangan akan berpengaruh negatif terhadap kinerja perbankan syariah karena masih terkendala beberapa masalah seperti keterbatasan modal, sumber dana, SDM dan TI yang belum mumpuni.

Sementara dalam rangka mengembangkan industri perbankan syariah untuk menjadi pemain yang unggul dan berperan signifikan di Indonesia, terdapat beberapa tantangan dan strategis yang harus menjadi prioritas bagi stakeholders perbankan syariah. Pertama, yakni inovasi produk keuangan dan perbankan syariah yang merupakan pilar utama dalam pengembangan industri perbankan syariah.

Bank-bank syariah harus memiliki produk inovatif yang makin beragam agar bisa berkembang dengan baik. Upaya ini mutlak dilakukan karena bank syariah akhir-akhir ini mengalami pelambatan pertumbuhan bahkan penurunan market share dibanding konvensional. Inovasi produk bank syariah adalah sebuah keniscayaan, agar bank syariah bisa kembali tumbuh dan bersaing dengan perbankan konvensional maupun lembaga lain.