|
Gerakan Islam radikal yang marak tumbuh saat ini menjadi keprihatinan bagi sejumlah kalangan, karena itu perlu dirumuskan model pembaharuan gerakan umat Islam yang lebih progresif dan berwawasan Islam sebagai rahmatan lil alamiin. Hal itulah yang melatarbelakangi kegiatan semiloka yang digagas Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Malang (Unisma) bekerjasama dengan Puslitbang Depag RI. Acara bertajuk ”Tumbuhnya Gerakan Islam radikal dan Dampaknya Terhadap Kerukunan Umat Beragama” tersebut digelar selama dua hari 11-12 Agustus 2009 di Hotel Sahid Montana Kota Malang. Ajang ini menjadi tempat berekspresi, dan harapannya bisa ditemukan jalan keluar dalam menghadapi gerakan Islam radikal. Dijelaskan, gerakan Islam radikal yang memperjuangkan berdirinya negara Islam karakteristik gerakan doktrin keagamaan yang berbeda dengan gerakan Islam yang lain. Diantaranya Pertama, setiap orang yang belum menjadi bagian dari kelompok Islam underground masih dianggap hidup dalam kesesatan, mereka belum ber-Islam sebelum masuk jama’ahnya. Kedua, gerakan ini dibangun di atas landasan kerahasian. Ketiga, mengembangkan faham pengkafiran pada orang lain. Keempat, menghalalkan hak milik dan harta semua orang yang tidak dalam kelompoknya. Kelima, kewajiban bai’at. Keenam, kewajiban ketaatan mutlak kepada pemimpinnya. Ketujuh, ada dana pergerakan. Kedelapan, tidak mewajibkan sholat. Kesembilan, menghindari debat terbuka dengan ahli syari’ah. Unisma berkeinginan untuk ikut andil dalam menyelenggarakan semiloka ini sebagai bentuk konstribusi pada masyarakat Islam dalam memahami eksistensi Islam yang sebenarnya. Acara semiloka ini diikuti puluhan ulama dan kyai muda, serta berbagai ormas Islam di Jawa Timur. Hadir sebagai pembicara pada sesi pertama kemaren, Kapuslitbang Depag RI, Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, MA, PhD, dan dari IAIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Dr. KH. Ali Mashan Moesa, MA. Tema yang diangkat adalah mengenai liberalisme pemikiran keagamaan dalam perspektif sosiologis. Sedangkan pada hari kedua menghadirkan nara sumber Guru Besar Fakultas Agama Islam (FAI) Unisma, Prof. Dr. KH. M. Tholchah Hasan dan Pengurus PBNU Dr. KH. Said Agil Siradj, MA.
|