Universitas Islam Malang (Unisma)

Universitas Islam Malang

Hello, you either have JavaScript turned off or an old version of Macromedia's Flash Player. Get the latest flash player.

 
Info PMB

  » PENGUMUMAN MABA TA. 2010/2011
  » PENGUMUMAN HASIL SELEKSI PENERIMA BEASISWA I-MHERE T.2010
  » Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru 2010/2011
  » Pendidikan Masa Kini Berwawasan masa Depan
  » Selamat Datang di Kampus Hijau UNISMA
Info Karir
Agenda Kegiatan
September 2010 October 2010
Su Mo Tu We Th Fr Sa
Week 35 1 2 3 4
Week 36 5 6 7 8 9 10 11
Week 37 12 13 14 15 16 17 18
Week 38 19 20 21 22 23 24 25
Week 39 26 27 28 29 30
Foto Galeri
NU BUTUH PEMIMPIN YANG CERDAS PDF Print E-mail
Written by admin unisma   
Tuesday, 18 August 2009

ImageNahdlatul Ulama’ (NU) perlu melakukan politik yang cerdas/smart politic, karena siapapun pemimpin NU tidak boleh gampang tergoda dengan jabatan. Kedepan pengurus NU harus mulai sadar, kalau mau jadi ketua NU jangan berpikir menjadi Bupati, Gubernur, atau Presiden sekalipun. Posisi pengurus NU jangan dijadikan batu loncatan untuk menjadi eksekutif” demikian pernyataan Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifulloh Yusuf (Gus Iful) disampaikan dalam rangka dialog antar kaum Nahdliyyin dan pelatihan kader lanjut (PKL) XIV PMII Cabang Kota Malang di Ruang seminar Oesman mansyur Universitas Islam Malang (UNISMA), Senin 20 Agustus 2009.
Dialog bertema ”Mempertegas Khittah Politik NU yang Multi Tafsir” dengan nara sumber : KH. Dahlan Tamrin, rohaniawan Romo Benny Susetyo, dan Ketua NU Online Abdul Mun’im DZ. Rohaniawan yang juga aktivis Romo Benny Susetyo menuturkan bahwa NU saat ini butuh figur pemeimpin seperti sosok Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dijaman Gus Dur menurutnya NU menjadi sangat dinamis, Gus Dur mampu menjadi katalisator dan payung untuk semua golongan. Walau diangap nyeleneh namun tetap bisa diterima semua golongan. ”Ke depan dibutuhkan sosok yang kharismatik dan profersional untuk menjadi tokoh yang mampu mengendalikan massa NU” pungkasnya. Sementara itu pembicara yang lain menyampaikan bahwa pada intinya

Untuk menerapkan khittah Nahdliyah secara lebih proporsional dibutuhkan pemahaman yang tuntas dan menyeluruh tantang khittah itu sendiri. Selanjutnya khittahpun dianggap sebagai langkah untuk menjauhkan NU dari politik, bahkan lebih ekstrem ditempatkan sebagai depolitisasi NU. Padahal khittah justru mengatur bagaimana warga NU berpolitik secara benar dan bertanggung jawab, baik secara moral maupun sosial. Karena itu kemudian dirumuskan pedoman berpolitik warga NU yang sembilan butir itu, dimana akhlaqul karimah menjadi watak dasarnya.

Last Updated ( Tuesday, 18 August 2009 )
 
< Prev   Next >
BeritaRektor: KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PTN DAN PTS TERASA KURANG ADIL
03/08/2010 | admin unisma
article thumbnai

Perhatian Pemerintah terhadap PTN dibanding PTS cenderung tidak adil, itu dulu. Namun dalam kurun waktu terakhir paradigma itu sudah tampak lebih adil antara PTS dan PTN. Dalam hal pemberian dana bantuan misalnya, pemerintah merumuskan jalur hibah kompetisi, semua PT memiliki kes [ ... ]


BeritaUNISMA BERI BEASISWA PENGHAFAL AL-QUR'AN
03/08/2010 | admin unisma
article thumbnai

Unisma Tahun ini memberi kesempatan bagi para Penghafal Al-Qur'an untuk Studi Gratis, baik calon Mahasiswa Baru atau Mahasiswa yang sudah diterima di Unisma. Beasiswa ini berlaku untuk semua Fakultas yang ada di Unisma. Jadi kalau ada yang hafidz (hafal Al-Qur'an) silakan [ ... ]


Berita
Shoutbox





Kolom Alumni





Statistik Pengunjung
mod_vvisit_counterToday166
mod_vvisit_counterYesterday413
mod_vvisit_counterThis week2621
mod_vvisit_counterThis month4840
mod_vvisit_counterAll297704