|
NU BUTUH PEMIMPIN YANG CERDAS |
|
|
|
|
Written by admin unisma
|
|
Tuesday, 18 August 2009 |
|
“Nahdlatul Ulama’ (NU) perlu melakukan politik yang cerdas/smart politic, karena siapapun pemimpin NU tidak boleh gampang tergoda dengan jabatan. Kedepan pengurus NU harus mulai sadar, kalau mau jadi ketua NU jangan berpikir menjadi Bupati, Gubernur, atau Presiden sekalipun. Posisi pengurus NU jangan dijadikan batu loncatan untuk menjadi eksekutif” demikian pernyataan Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifulloh Yusuf (Gus Iful) disampaikan dalam rangka dialog antar kaum Nahdliyyin dan pelatihan kader lanjut (PKL) XIV PMII Cabang Kota Malang di Ruang seminar Oesman mansyur Universitas Islam Malang (UNISMA), Senin 20 Agustus 2009. Dialog bertema ”Mempertegas Khittah Politik NU yang Multi Tafsir” dengan nara sumber : KH. Dahlan Tamrin, rohaniawan Romo Benny Susetyo, dan Ketua NU Online Abdul Mun’im DZ. Rohaniawan yang juga aktivis Romo Benny Susetyo menuturkan bahwa NU saat ini butuh figur pemeimpin seperti sosok Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dijaman Gus Dur menurutnya NU menjadi sangat dinamis, Gus Dur mampu menjadi katalisator dan payung untuk semua golongan. Walau diangap nyeleneh namun tetap bisa diterima semua golongan. ”Ke depan dibutuhkan sosok yang kharismatik dan profersional untuk menjadi tokoh yang mampu mengendalikan massa NU” pungkasnya. Sementara itu pembicara yang lain menyampaikan bahwa pada intinya Untuk menerapkan khittah Nahdliyah secara lebih proporsional dibutuhkan pemahaman yang tuntas dan menyeluruh tantang khittah itu sendiri. Selanjutnya khittahpun dianggap sebagai langkah untuk menjauhkan NU dari politik, bahkan lebih ekstrem ditempatkan sebagai depolitisasi NU. Padahal khittah justru mengatur bagaimana warga NU berpolitik secara benar dan bertanggung jawab, baik secara moral maupun sosial. Karena itu kemudian dirumuskan pedoman berpolitik warga NU yang sembilan butir itu, dimana akhlaqul karimah menjadi watak dasarnya.
|
|
Last Updated ( Tuesday, 18 August 2009 )
|