JAGA TRADISI PESANTREN, UNISMA TERAPKAN JUMAT BERSARUNG

Universitas Islam Malang (Unisma) resmi menerapkan program “Jumat Bersarung”, Jumat (29/8). Peluncuran program “Jumat Bersarung” ini bertujuan menunjukkan sisi unik dari Unisma dibandingkan kampus lainnya.

“Sistem seragam baru ini (akan terus dilaksanakan) di setiap Jumat, jadi bukan Jumat (hari) ini saja,” ungkap Rektor Unisma, saat melakukan pers conference di Gedung Rektorat Unisma, Jumat (29/8).

Rektor Universitas Islam Malang, Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si menuturkan bahwa berdirinya kampus NU terbesar di Indonesia ini berkat perjuangan para kyai dan cendekiawan yang banyak belajar dari pesantren. Tradisi sarung yang identik dengan pesantren harus dipertahankan dan tak boleh lenyap dari kehidupan.

“Walaupun kita sudah mengenal teknologi informasi, tapi hal-hal yang baik harus tetap kita pertahankan sembari juga mengambil hal-hal yang lebih baik lagi,” jelasnya.

Di sisi lain, Prof. Maskuri menegaskan, kehadiran program “Jumat Bersarung” juga karena teinspirasi dari perguruan-perguruan tinggi besar di Timur Tengah. Beberapa di antaranya seperti Universitas Al-Azhar, Universitas Umm Al-Qura dan kampus-kampus Islam lainnya.

Pada pelaksanaan program “Jumat Bersarung”, para civitas akademika diwajibkan mengenakan sarung dan kopiah (untuk laki-laki) setiap Jumat. Selain itu, mereka juga diminta memakai sepatu slop, baju koko dan jas (para staf dan dosen).

Rektor Unisma menambahkan, Dekan di setiap fakultas tanggung jawab untuk memantau pelaksanaan program “Jumat Bersarung” di fakultasnya. Jika terdapat civitas akademika yang tidak melaksanakannya, maka yang bersangkutan akan ditegur secara halus. Tidak ada sanksi apapun kecuali rasa malu akibat teguran yang diterima para sivitas akademika.

Dengan adanya program baru tersebut, Prof Maskuri berharap, nuansa religius Unisma semakin kuat. Simbol-simbol semisal sarung dapat meneguhkan Unisma sebagai kampus Islam. Artinya, tidak hanya dari kurikulumnya tapi unsur spirit keislaman yang tertanam di dalamnya.