Workshop Kuliah Keagamaan Kembangkan Metodelogi Sistem Daring

Lulusan Universitas Islam Malang (Unisma) harus punya ciri khas, yang paling utama ciri khas keagamaan. Yaitu pengetahuan, pemikiran, sikap dan ibadah sesuai ajaran Islam Rahmatan Lil Alamin. Selama kuliah di Unisma, mahasiswa akan menerima kuliah keagamaan sebanyak 12 SKS selama enam semester. Lalu, bagaimana pengetahuan agama ini bisa diterima mahasiswa secara maksimal di masa pandemi dengan kuliah daring.

Kamis (23/7), Unisma memberikan bekal kepada puluhan dosen pengampuh mata kuliah keagamaan. Sebuah workshop tentang pengembangan metodelogi pengajaran agama via daring. Tujuannya agar kuliah agama Islam sesuai dengan misi dan target.

“Karena kalau daring dosen tentu tidak akan maksimal menyentuh hati mahasiswa dan untuk materi agama Islam, ini tantangan. Karena materi keagamaan lebih implementatif,” ujar Wakil Rektor III Unisma, Dr. Ir. H. Badat Muwakhid, MP.

Dalam workshop tersebut para dosen dibimbing langsung Rektor Unisma, Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si. Materinya fokus pada Ilmu Pendidikan Agama. Prof. Maskuri menerangkan tentang pentingnya mengembangkan ilmu pengetahuan agama yang bersifat terapan. Karena bisa mempengaruhi soft skill mahasiswa. Sehingga lebih mudah diterima di dunia kerja, sebab terbiasa berpikir positif, jujur dan amanah.

“Kemampuan beragama tidak hanya untuk kemampuan dirinya agar lebih sholeh, tetapi juga agar orang lain memberikan pengakuan terhadap keilmuannya,” terang Badat.

Nara Sumber lainnya, yakni Dosen Universitas Negeri Malang Dr. Muslihatin. Ia menerangkan tentang strategi pendidikan dan pengajaran Agama Islam untuk masyarakat milenial. Materi ini dinilai penting karena mahasiswa masa kini tumbuh kembang di era milenial.