
Di tengah meningkatnya dinamika konflik global yang turut memengaruhi stabilitas ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat, Program Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma) mengambil langkah strategis melalui penguatan kerja sama akademik internasional. Upaya ini diwujudkan lewat penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) dengan Universiti Teknologi MARA pada Selasa (31/3/2026).
Kolaborasi tersebut tidak hanya dimaknai sebagai agenda formal antar institusi, tetapi juga sebagai bentuk respons intelektual terhadap kondisi dunia yang semakin kompleks. Direktur Pascasarjana Unisma, Prof. M. Mas’ud Said, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam merespons dampak konflik global yang kini meluas ke berbagai sektor kehidupan.
“Kita sedang menghadapi konflik besar di dunia. Dampaknya bukan hanya antarnegara, tapi sampai ke energi, pangan, ekonomi, bahkan kehidupan keluarga. Ini yang harus dijawab oleh kampus,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa konflik modern tidak lagi terbatas pada medan fisik, melainkan turut berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan pokok, tekanan terhadap anggaran negara, hingga terganggunya sektor pendidikan menjadi realitas yang tidak bisa diabaikan.
“Perang itu tidak hanya di udara, laut, atau darat. Dampaknya sampai ke rumah tangga, ke ibu-ibu, ke anak-anak sekolah. Kalau ekonomi terganggu, semuanya ikut terdampak,” kata Prof. Mas’ud.
Melalui kerja sama ini, Unisma dan UiTM berkomitmen memperkuat kajian ilmiah, khususnya terkait isu resolusi konflik dan perdamaian global. Pendekatan akademik dipandang sebagai salah satu jalan untuk menghadirkan solusi yang lebih konstruktif.
“Kami ingin memperdalam penulisan kajian ilmiah tentang konflik dan bagaimana mencari resolusinya. Tidak ada manusia yang ingin perang, semua ingin damai, tapi cara yang ditempuh sering kali keliru,” tegasnya.
Selain penguatan riset, kerja sama ini juga mencakup program pertukaran dosen dan mahasiswa serta kegiatan pengabdian masyarakat lintas negara. Keterlibatan langsung di tengah masyarakat diharapkan mampu memperluas perspektif sekaligus memberikan dampak nyata.
“Kami saling mengirim mahasiswa dan dosen. Mereka belajar langsung di masyarakat, begitu juga kami ke sana. Ini bukan hanya akademik, tapi menyatukan cara pandang,” jelasnya.
Lebih jauh, Prof. Mas’ud menyoroti pentingnya peran kawasan Asia Tenggara dalam menjaga stabilitas global. Menurutnya, solidaritas negara-negara di kawasan ini dapat menjadi contoh di tengah fragmentasi yang terjadi di wilayah lain.
“ASEAN sampai hari ini relatif solid. Ini berbeda dengan beberapa kawasan lain yang justru terpecah karena aliansi. Asia harus menjadi contoh bahwa negara bertetangga bisa kuat jika bersatu,” ujarnya.
Ia menambahkan, konflik antarnegara memang sulit dihindari, namun dapat dikelola melalui dialog dan kesepakatan bersama. Dalam hal ini, kontribusi akademisi menjadi penting dalam menawarkan gagasan perdamaian.
“Tidak ada negara yang tanpa konflik. Tapi dengan resolusi konflik dan kesepakatan para pemimpin, semuanya bisa direduksi. Ini yang terus kita dorong melalui kajian akademik,” katanya.




