
Mutu pendidikan perguruan tinggi di Indonesia sangat memperihatinkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di 144 megara didunia, kualitas pendidikan perguruan tinggi (higher education, red) di Indonesia menduduki posisi ke 61. Keberadaan temuan paten di Indonesia menduduki posisi lebih bawah lagi yakni berada diurutan ke 106. Jika ditelisik lebih jauh, kondisi sedemikian itu disebabkan oleh kurangnya aktivitas penelitian dikalangan akademisi perguruan tinggi.
Penelitian – penelitian dan inovasi yang telah ditemukan oleh akademisi Indonesia tidak banyak dipaten kan dan dipublikasikan secara luas.
Hal itu terungkap dari pernyataan Prof. Dr. Ir. Suprapto, DEA koordinator kopertis wilayah VII Jawa Timur dalam acara seserahan pengembangan mutu menuju perguruan tinggi unggul, yang diselenggarakan di aula Usman Mansyur Universitas Islam Malang ( Unisma ), Sabtu (27/6).
Kondisi itu, menurut Suprapto yang menjadi fokus Kementrian Riset dan Teknologi (Menristek) RI akhir – akhir ini. Ini sebenarnya adalah tugasnya dikti, namun karena dulu dikti pisah dari Menristek, maka Dikti berani mengurusi. Namun setelah kini gabung, maka munculah tupoksi untuk mengurusi penelitian. Caranya adalah dengan meningkatkan bimbingan profisi sampai tahun 2018,” ungkap alumnus Intitut Teknologi Sepuluh November (ITS) tersebut.
Suprapto menambahkan, salah satu yang bisa dilakukan oleh perguruan tinggi adalah dengan menggenjot publikasi penelitian. Publikasi tak hanya dilakukan dengan cara mencetaknya menjadi jurnal saja, namun juga bisa melaluI media online.
“Sebenarnya yang terpenting adalah akses dari publikasi itu, meskipun dipublikasikan tapi kalau susah diakses masyarakat ya percuma. Penelitian dikatakan bermanfaat ketika banyak disita (kutip). Jika publikasinya online aksesnya akan lebih mudah,” tegasnya.




