Universitas
Islam Malang

Halal Center dan HAKI UNISMA Teliti Sperma Kenari dan Patenkan Kandangan Kelinci

Kegandrungan masyarakat unggas terutama burung , kandangan tidak di dukung oleh harga yang terjangkau. Seringkali mereka harus merogoh kocek tidak sedikit demi kepuasan hobi. Hal ini bukan perkara sederhana, pasalnya, tak jarang mereka harus mengimpor burung dari luar negeri untuk mendapatkan kualitas terbaik, sehingga memboroskan devisa Negara. Hal ini mendapatkan perhatian serius dari Laboratorium Halal Center (HC) dan Hak Atas kekayaan Intelektual (HAKI) Universitas Islam Malang. Saat ini, Laboratorium HC dan HAKI Unisma sedang melakukan penelitian terhadap sperma burung kenari.

“Kenari adalah burung yang paling banyak di amati. Tapi banyak penggemar burung impor pejantan, padahal harga terendahnya Rp 7 juta per ekor. Dengan mengambil spermanya atau semen beku, kita dapat menghemat devisa impor,” ujar kepala Laboratorium HC dan HAKI Unisma Dr. Ir. Hj mudawamah, MS.

Dengan demikian, kata dia, peternak dan penggemar burung kenari dapat membeli satu ekor pejantan  dan mengambil spermanya untuk dibekukan. Jika sperma yang dipilih adalah sperma yang progresif dan kualitasnya bagus, semen beku tersebut dapat bertahan bertahun-tahun. Saat ini, semen beku yang di kembangkan masih terbatas burung kenari.

Selanjutnya, ujar Muda, sapaan akrap Mudawamah, penelitian tersebut akan diperluas  dengan semen beku unggas lain, terutama yang langka.

Disamping pembekuan semen burung kenari, laboratorium HC dan HAKI juga mengembangkan penelitian inseminasi buatan (IB/kawin suntik) burung kenari.

“Selama ini masih belum ada penelitian tentang IB/kawin suntik pada burung kenari ini. Padahal ya itu tadi, sangat efektif untuk membantu peternak burung,” lanjut Muda.

Teknik IB/kawin suntik tersebut, jelas wanita ramah ini, dapat menggunakan semen beku maupun sperma yang benar-benar baru di ambil dari pejantan. Selain murah dan mudah, IB/kawin suntik dan semen beku burung kenari dapat menghemat sperma. Sebab, dengan cara ini peternak dapat menentukan jumlah sperma yang tidak berlebihan, sesuai dengan kemampuan pembuahan.

“Dalam waktu dekat kami akan memberi pelatihan kepada peternak, tentang IB/kawin suntik dan semen beku ini, agar dapat mengurangi ketergantungan peternak terhadap impor,”ungkap Muda

Sementara, selain mengembangkan penelitian tersebut, aktivitas lain di laboratorium HC dan HAKI juga padat.  Salah satunya ialah mematenkan kandang kelinci yang tidak terbau. Menurut Muda, saat ini hak cipta kandang kelinci inovatif tersebut sudah terdaftar di departemen HAKI tapi masih dalam pengajuan paten.  Langkah selanjutnya ialah mengikuti proses pemeriksaan substantive dan granted.

“Kami juga membantu UMKM yang ingin menganalis kandang boraks dan uji logam berat pada produknya . Misalnya  yang sekarang sedang diteliti adalah nugget sehat ,” pungkas Muda seraya menutup pembicaraan .

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn