UNISMA BAHAS KONTROVERSI CADAR DI INDONESIA

Dalam rangka Dies Natalis ke-39 dan menyambut Harlah NU ke-94, Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar Seminar Nasional. Mengangkat tema Kontroversi Cadar di Indonesia, Antara Syariah dan Budaya, Unisma menghadirkan tiga narasumber. Yakni, Direktur Dinun Achmad Tohe, MA.,Ph.D, peneliti kajian perempuan Dr. Merry Fridha Tri Palupi, S.Sos.,M.Si, dan Direktur Haraka Institute Dr.H.Ahmad Syams Madyan, Lc.,MA.

Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Drs. H. Anwar Sa’dullah,M.Pd.I mengungkapkan sebelum nabi ada, kerudung sudah jadi budaya Arab. Di Indonesia, sebelum 2000-an
masih 3 persen perempuan yang mengenal kerudung Setelah 2000-an, tren penggunaan hijab meningkat hingga 60 persen. Baru tahun 2015, tren hijab semakin variatif.

“Saat ini tren cadar masuk ke ranah politik identitas. Misalnya menganggap perempuan bercadar dianggap sosok radikal. Nah, bagaimana kontroversi cadar di Indonesia? Menurut fikih, wajah dan tanganbukan aurat. Tapi, boleh menutupnya dalam rangka untuk menghindari fitnah,” paparnya.

H.Ahmad Syams Madyan Lc MA menyebutkan, kajían tentang cadar ini sangat sensitif bagi sebagian orang. Misalnya dianggap sebagai tanda kepatuhan kepada Tuhan, atau simbol kesakralan. Apalagi akhir-akhir ini, masalah cadar lebih kompleks. Sering muncul fitnah-fitnah akhir zaman, islamophobia, dan lain sebagainya. “Kajian tentang perempuandalamlslam takbisa dilepaskan dari sejarah/sosio-antropologi dan budaya”tegasnya.

Ahmad Tohe MA PhD mengatakan tidak ada agama yang dilepaskan dari budaya. “Cadar adalah pilihan. Pilihan menggunakan cadar itu sangat menyulitkan. Tapi, jangan terlalu menyulitkan diri karena menggunakan cadar takhanya sekadar memakai. Tapi, ilmu tentang budaya atau sosio antropologi juga harus dimengerti,” pungkasnya.