
MALANG – Sebagai penunjang kemampuan mahasiswa, Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar Diklatsar untuk 97 mahasiswa fakultas kedokteran yang dimulai sejak 19 sampai 26 Februari. Dalam acara tersebut, Unisma menggandeng 6 Instruktur yang berasal dari Basarnas Surabaya dan Palang Merah Indonesia.
Rektor Unisma Prof. Dr. H. Maskuri MSi., menuturkan, PMI juga memberikan apresiasi yang besar terhadap Diklatsar yang memberikan pelatihan Medical Rescue Team (MRT) tersebut. Apalagi mengingat masih jarangnya Fakultas Kedokteran yang memiliki MRT.
“Tidak semua fakultas kedokteran punya MRT. Termasuk fakultas kedokteran Indonesia ini, juga bias dikatakan masih jarang yang memiliki MRT,” ungkap Maskuri usai memberangkatkan mahasiswa kemaren.
Diklatsar yang ke-7 ini merupakan agenda tahunan yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa Fakultas Kedoteran Unisma. Tujuannnya jelas, yakni untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan tanggap darurat yang wajib dimiliki oleh seorang dokter.
“Apalagi dengan kondisi di Indonesia yang rawan bencana ini, dokter harus bisa cepat dan sigap dalam menangani masyarakat,”imbuhnya.
Dalam rangkaian acara tersebut, mahasiswa tidak hanya diberikan materi dasar MRT, tetapi diajak untuk mempraktikakannya secara langsung di lapangan. Untuk itu, dipilihlah Coban Rondo sebagai tempat pelatihan selanjutnya.
Nantinya, mahasiswa akan diberikan pelatihan cara evakuasi medis, survival, ascending, dan descending. Mereka juga menggandeng Yepe, Komunitas Pendaki Gunung dan Pecinta Alam.
Menurut Wahyu Toefani, Ketua Diklatsar VII itu, mahasiswa akan belajar cara menangani korban dengan keterbatasan alat. “Karena menjadi dokter tidak selamanya hanya praktik di rumah sakit ataupun di pukesmas. Tetapi juga ada kemungkinan ikut menangani korban bencana alam disuatu tempat. Jadi, ini sangat penting untuk bekal kemampuan dokter,”tegasnya.
Ia juga menambahkan, seorang dokter juga harus bisa masuk dapur umum di barak penampungan. “Karena yang tau bagaimana makanan untuk anak-anak, ibu-ibu atau lansia itu kan dokter. Jadi dokter harus bisa masuk di dapur umum juga, ”imbuhnya.




