
MALANG. Selasa, 24/5/2016, Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himaprodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar acara Peringatan Chairil Anwar (PCA) dengan menghadirkan pemateri nasional, penulis puisi, esais, dosen, dan guru besar sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. Acara yang dilangsungkan di gedung Utsman Bin Affan lantai 7 tersebut juga menghadirkan Dr. Akhmad Tabrani, M.Pd, budayawan sekaligus Ketua Program Studi (Kaprodi) Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Unisma.
Kaprodi PBSI Unisma, Muh. Badrih. M.Pd menyatakan bahwa PCA merupakan kegiatan tahunan yang berupaya merevitalisasi gagasan-gagasan besar Chairil Anwar, Penyair pelopor angkatan 45. “Teladan Chairil Anwar adalah semangat memperbarui yang tak pernah putus.” Tukasnya. Tanggal 28 April diperingati sebagai Peringatan Chairil Anwar. Sementara Dekan FKIP, Dr. Hasan Busri, M.Pd menyatakan bahwa sosok Chairil seharusnya menjadi cermin bagi siapa saja untuk melakukan hal yang disukai dengan cinta dan sepebuh hati. “Masa depan sastra Indonesia salah satunya ada di tangan calon guru-guru Bahasa dan Sastra Indonesia.” Ujarnya menyemangati 150 mahasiswa yang hadir.
Prof. Dr. Djoko Saryono mengungkapkan ada hal yang kerap dilupakan orang terkait Chairil Anwar, yakni kecendekiawanannya. “Ia keponakan Sutan Sjahrir salah satu perintis kemerdekaan negeri ini. Sepulang dari Belanda, Sjahrir membawa berpeti-peti buku. Di tengah iklim keluarga yang literat seperti itulah, kecendekiawanannya terbentuk.” Ungkapnya. Ia menegaskan selama ini orang hanya memandang Chairil sebagai penyair ‘urakan’. “Padahal ialah pembaharu sastra Indonesia, khususnya puisi, ia meletakkan posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa yang indah dan mampu mewakili gagasan indijeniusitas (indigenousity) atau kepribumian puisi-puisinya.” Tuturnya.
Dr. Akhmad Tabrani, penyair dan budayawan asal Sumenep menyampaikan materinya terkait intertekstualitas gagasan Chairil Anwar dengan film-film populer saat ini, seperti Ada Apa dengan Cinta. “Melalui puisisnya, Chairil mengajak kita kembali menjadi ‘manusia’ dalam arti yang sesungguhnya.” Tegasnya. Di era global, gagasan Chairil menjadi penting mengingat globalisasi kerap dipahami menjadi ‘Barat’, padahal globalisasi justru mengajak masyarakat mampu mengidentifikasi ‘kepribumiannya’ dan menawarkan kebudayaannya untuk berinteraksi dengan kebudayaan lain. Alif, mahasiswa semester IV PBSI, FKIP Unisma menyatakan puas dengan acara ini karena ia mendapat perspektif berbeda terkait sosok Chairil Anwar. “Perspektif berbeda tentang Chairil Anwar penting untuk melengkapi referensi saya terhadap sosok inspiratif tersebut.” Pungkasnya. (AA)




