Peringati Hari Santri, Unisma Launching 3 Buku

Universitas Islam Malang (Unisma) meluncurkan 3 buku sekaligus dalam peringatan Hari Santri, pada Kamis (22/10/2020). Ketiga buku tersebut adalah buku karya KH. Oesman Mansur berjudul Islam dan Kemerdekaan Beragama, buku tentang KH. M. Tholchah Hasan berjudul Sang Inspirator, serta buku Aksi Unisma Pelopor Kampus Anti Radikalisme.
“Sebagai bagian dari NU yang selalu menggaungkan tentang Islam Nusantara. Terbitnya buku Aksi Unisma Pelopor Kampus Anti Radikalisme sebagai bukti bahwa Unisma mempunyai gerakan dan pelopor anti radikalisme, mendukung NKRI dalam menjaga kesatuan,” ujar Rektor Unisma, Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si.

Rektor Unisma pun menuturkan bahwa, pihaknya juga meresmikan perpustakaan pusat yang di dalamnya terdapat NU Corner, beberapa waktu lalu. Hal ini semata-mata untuk mendorong, seluruh civitas akademika untuk mengembangkan kreativitas, inovasi, maupun energi positif, sehingga dapat mengantarkan kemajuan dan kedamaian melalui berbagai bidang pendidikan. Baik ekonomi, politik, peternakan, teknologi, agama dan sebagainya.

“Selamat hari santri, selamat hari perjuangan kiai, karena para kiai para santri telah berperan besar dalam kemerdekaan Indonesia. Mudah-mudahan lewat Hari Santri ini bisa memberikan spirit baru bagi masyarakat. Para santri pun juga semakin terbuka terhadap siapaun. Apalagi NKRI yang di dalamnya Bhinneka Tunggal Ika, multikultur dan pruralisme,” imbuhnya.
Sementara itu, narasumber orasi kebangsaan KH. D. Zawawi Imron, melalui ceramah kebangsaan bertajuk Menembus Batas Mengawal NKRI Sebagai Rumah Bersama menjelaskan, dalam kata Unisma, terdapat makna lain jika dibaca terbalik yakni Amsinu yang berarti Aku Mahasiswa Santri Indonesia NU.

“Lah kok bisa-bisanya dibalik bukan tambah jelek malah tambah bagus. Justru artinya sesuatu yang baik. Secara substansial kalau di bolak balik seperti apapun akan tetap baik. Saya yakin yang bikin dulu nggak akan terfikir ini,” ujarnya sembari tertawa.

KH. Zawawi imron pun berharap, agar para santri menanamkan rasa saling menghormati, utamanya kepada yang lebih tua. Kemudian berakhlak mulia, dan mengejar pendidikan sebaik mungkin sesuai dengan agama.

“Menjadi mahasiswa itu harus rumongso iso atau iso rumongso? Kalau anda rumongso iso, anda akan jadi mahasiswa yang merasa lebih pinter dari dosen. Tapi kalau anda jadi mahasiswa yang iso rumongso, anda akan hormat kepada dosen, dan dosen akan mendoakanmu sehingga ilmumu menjadi barokah dan menuntunmu menjadi sosok yang berguna dan bermanfaat bagi banyak orang,” tutupnya.