Indonesia ketinggalan langkah dari Negara lain dalam menghadapi persaingan bebas masyarakat ekonomi ASEAN 2015. Menurut Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, dari sisi perbankan saja Indonesia sudah ketinggalan dengan Malaysia. Di Malaysia suku bunga bank hanya 2%, sementara di Indonesia masih mencapai 15%.
“Kalau kita mau bersaing maka kita sudah ketinggalan 13% dibandingkan Malaysia,” ungkap Gita saat menghadiri penutupan Oshika Maba Unisma, Kamis (19/9/13).
Negara Thailand, lanjutnya, sudah menyekolahkan ribuan warganya untuk belajar Bahasa Indonesia agar bisa berjualan produk Thailand di Indonesia, karena potensi 250 Juta penduduk Indonesia menjadi pasar potensial mereka. Apalagi Indonesia dipandang sebagai Negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi bagus yaitu 7% per tahun yang ditopang konsumsi domestik yang tinggi.
“Saat Thailand sudah siap berjualan pada 1 Januari 2015 nanti, apakah kita sudah siap bersaing dengan mereka,” ujarnya.
Ketua PBSI ini menuturkan untuk mengantisipasi dibukanya pintu ASEAN Economic Community (AEC) 2015, masyarakat Indonesia harus mampu menampilkan produk yang bisa lebih bersaing dengan produk luar negeri. Menurut Gita, bergulirnya AEC merupakan tantangan yang mesti bisa dikonversi menjadi peluang, karena itulah pendidikan menjadi bekal yang sangat penting. “Karena dengan pendidikan, kita lebih cerdas, kuat, dan berani,” tutur Gita.
Faktanya, kata dia, jumlah sarjana di Indonesia masih jauh dibandingkan dengan sarjana diluar negeri. Ia membandingkan jumlah S3 di Indonesia sebanyak 25 Ribu orang, di India 600 Ribu oaring, dan di Tiongkok sudah mencapai 800 Ribu orang.
Sementara itu dalam sesi tanya jawab, Maba Unisma terlihat antusias memberondong Gita dengan mempertanyakan alasan pemerintah masih mengimpor sejumlah komoditi dari luar negeri. Seperti Kedelai, daging sapi hingga garam. “Di Sampang harga Garam hanya Rp 300 pak, katanya Pemerintah hanya mematok Rp 500, tolong diperjuangkan nasib warga didaerah saya pak,” ucap salah satu mahasiswa dalam sesi tanya jawab.
Seperti biasanya Gita menjawab dengan diplomatis bahwa kebijakan impor harus dilakukan karena produksi dalam negeri belum mencukupi dengan kebutuhan konsumsi. Contohnya saja produksi kedelai di Indonesia secara nasional hanya 700 Ton per tahun, sementara konsumsi mencapai 2,5 ton per tahun. Begitu pula daging sapi di Indonesia produksinya baru mencapai 14 juta ekor sapi untuk mencukupi kebutuhan 250 Juta Penduduk. Sementara di Brazil terdapat 190 Juta penduduk dengan produksi sapinya 200 Juta ekor.
Kehadiran Gita di Kampus Unisma kemarin disambut meriah oleh seluruh Civitas kampus. Bahkan Rektor Unisma, Prof Dr Surahmat M.Si memberikan kado istimewa berupa kue ulang tahun untuk Gita yang menginjak usia 48 tahun pada 21 Sebtember besok. tegasnya.
Lebih jauh, Prof Dr Surahmat mengatakan bahwa institusinya memang mengundang Gita Wirjawan untuk menjadi pembicara dan motivator bagi maba Unisma.
“Datangnya Pak Gita ini akan memberikan suntikan moral kepada maba-maba saya. Harapannya, anak-anak saya bisa mencontoh beliau dan menjadi pemimpin yang berakhlak dan berwawasan luas, dan Unisma mau mencetak calon pemimpin, karena itulah kami hadirkan pemimpin di kampus ini,” Itu saja,” tandas Surahmat.




