
MALANG. 27/02/16. Musyawarah Kerja Wilayah Ikatan Senat Indonesia Wilayah IV ke XV merupakan kegiatan rutin yang pada tahun ini digelar oleh Universitas Islam Malang, dilaksanakan dari tanggal 25-27 Februari 2016. Acara pembukaan dialaksanakan Kamis malang (25/02/16) dilaksanakan di Hotel Spencer dan diskusi panel dengan tema MUSKERWIL ISMKI Wilayah IV ke XV “Berawal dari Diversitas, Bersatu dalam Integritas, Bekerja untuk Progresifitas”.
Rangkaian acara hari pertama adalah Welcoming Party yang dihadiri oleh Dekan FK Unisma dan juga dihadiri oleh Wakil Rektor III Universitas Islam Malang, Dr. Ir. H. Badat Muwakhid, MP yang sekaligus dengan resmi membuka MUSKERWIL ISMKI Wilayah IV ke XV. “Semoga dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat memberi masukan kepada pemerintah dan masyarakat tentang upaya peningkatan pendidikan kedokteran, kesehatan, serta kegiatan-kegiatan ilmiah kedokteran, sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi”. Tegasnya.
Acara dilanjutkan pada hari Jumat yaitu sidang dan dilanjutkan dengan diskusi panel bersama dengan Dirjen Sumber Daya, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Prof. dr.Ali Ghufron Mukti, M.Sc, Ph.D. Beliau membahas tentang program kebidanan di Indonesia.”Saat ini jumlah prodi kebidanan di Indonesia mencapai 700. Jumlah bidan kita yang terbesar di Asia Tenggara, dengan jumlah 400.000 bidan. Tapi hal itu tak berarti AKI menurun,” ujar Prof. Ghufron saat berbicara dalam Muskerwil Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia di Universitas Islam Malang.
Prof. Ghufron menyebut angka kematian ibu justru meningkat dari tahun ke tahun. Jika pada 2007, angka kematian ibu sebanyak 228 per 100.000 kelahiran, namun sekarang meningkat menjadi 357 per 100.000 kelahiran. Menurut Prof. Ghufron hal itu merupakan suatu ironi, karena banyaknya bidan tak berpengaruh terhadap jumlah kematian ibu melahirkan dan peran mahasiswa dalam hal ini memantau perkembangan ibu hamil dan kemudian jika terjadi masalah kesehatan segera dibawa ke layanan kesehatan.”Pemantauan bisa dimulai dari gizi ibu hamil. Di negara kita, kurang dari 10 persen ibu hamil yang makan ikan. Padahal ikan mengandung omega tiga yang penting bagi otak bayi,” jelas beliau.
Jika hal itu diterapkan, Ghufron yakin permasalahan kematian ibu melahirkan bisa ditekan. (nin)




