Universitas
Islam Malang

SEMINAR NASIONAL TENTANG MAFIA MIGAS DAN PEREKONOMIAN DI INDONESIA FAKULTAS EKONOMI UNISMA

Maraknya praktik mafia migas yang merugikan bangsa harus diwaspadai terutama oleh mahasiswa. Caranya adalah dengan melakukan penelitian dan riset tentang kebutuhan migas di tanah air, termasuk indicator tingginya kebutuhan masyarakat akan minyak dan gas.

Hal itu diungkapkan oleh Faisal Basri, Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas dalam Seminar Nasional berjudul “Satgas Mafia Migas dan Perkembangan Ekonomi” di Gedung Oesman Mansyur, Univesitas Islam Malang (Unisma). Hasil penelitian itu, nantinya juga bisa digunakan sebagai dasar bagi pemerintah untuk mengambil kebijakan terkait migas.

“Hal itu bisa menjadi pedoman pemerintah dalam mengontrol kebutuhan migas. Saat ini, mahasiswa harus kritis dalam menyikapi perkembangan ekonomi dan migas di Indonesia,” ungkap Faisal.

Faisal juga menegaskan, mahasiswa harus lebih waspada dan melek terhadap praktik mafia migas. Menurut Faisal, membasmi praktik mafia migas dibutuhkan peran aktif masyarakat, salah satunya mahasiswa.

“Keterlibatan mahasiswa dan perguruan tinggi sangat diharapkan untuk membasmi praktik mafia migas, ” tegasnya.

Pembentukan mafia migas itu, menurut Faisal merupakan poin penting bagi pemerintah Joko Widodo. Menurutnya, dengan begitu Jokowi telah memiliki niat untuk memperbaiki sektor migas dan mengurangi prakti            k mafia migas.

“Pemerintah sudah membentuk satgas untuk menekan kebocoran migas. Harapannya setelah terbentuk, mafia migas bisa hilang, ” tandasnya.

Selain itu, Faisal juga menyinggung masalah cadangan minyak di Indonesia yang hampir habis. Menurutnya, cadangan minyak saat ini hanya cukup untuk 11,5 tahun ke depan.

Faisal juga menyebutkan, saat ini, cadangan minyak yang tersisa hanya 3,7 miliar barrel. Padahal tahun 1980-an, masih ada sekitar 11 miliar barrel. Hal itu, menurut Faisal disebabkan oleh tingginya permintaan masyarakat yang tidak diimbangi dengan penemuan sumur minyak yamg baru.

Disamping itu, Faisal juga memprediksi, cadangan minyak akan merosot tajam hingga tahun 2050 nanti. Dengan begitu, Faisal mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih hemat.

“Jangan berfikir untuk hidup kita saat ini, namun juga fikirkan nasib anak cucu kita di masa mendatang. Sebagai mahasiswa seharusnya kalian peduli akan kondisi seperti ini. Caranya adalah dengan menghemat penggunaan energi.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn