MALANG. Sabtu, Universitas Islam Malang (Unisma) menghadirkan Diretur Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Prof. Intan Ahmad, P.hD dalam acara sarasehan yang dihelat di ruang sidang lantai 2, Gedung Umar Bin Khottob. Sarasehan tersebut dihadiri 50 dosen di lingkungan Unisma dan mengambil tema Peran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Meningkatkan Kesejahteraan dan Peradaban Bangsa.
Dalam sambutannya, Rektor Unisma, Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si menyampaikan rasa hormat kepada Dirjen Belmawa yang hadir memenuhi undangan Unisma, mengingat Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), M. Nasir berhalangan hadir. Ia menyatakan bahwa Unisma berkomitmen meningkatkan kesejahteraan dan peradaban bangsa melalui pendidikan tinggi. “Kampus kami saat ini mencapai peringkat 42 dari 3320 PTN/PTS se Indonesia, dan masuk klaster 2 dari 5 klaster Perguruan Tinggi di Indonesia. Kami bertekad untuk naik ke kluster 1 dan mendongkrak peringkat menuju 30 besar dengan kerja keras dan meningkatkan kualitas SDM baik dosen, karyawan, dan mahasiswa Unisma, selaras dengan tujuan Pendidikan Tinggi yakni menghasilkan riset dan lulusan yang berdaya saing” tuturnya.
Prof Intan Ahmad, guru besar bidang biologi dari Fakultas MIPA, Institut Teknologi Bandung (ITB) menyatakan rasa hormatnya pada Unisma yang mampu meraih peringkat 42 dari 3320 PTN/PTS se Indonesia. “Ini prestasi luar biasa bagi Unisma, karena bisa berada di 50 besar PTN/PTS se Indonesia,” cetusnya. Ia memaparkan bahwa saat ini Direktorat Belmawa tengah menjalankan visi dan misi Nawacita Presiden RI Jokowi yang diwijudkan melalui peningkatan mutu Pendidikan Tinggi (lulusannya), kualitas dan efektivitas riset, dan teknologi yang akan menjadi landasan penting bagi tercapainya peningkatan daya saing bangsa.
Ia menggarisbawahi bahwa pada 2045 Indonesia akan melahirkan generasi emas melalui serangkaian strategi pendidikan. Pendidikan dan pelatihan adalah elemen utama untuk memfasilitasi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Dosen ITB yang juga seorang karateka bersabuk hitam ini melanjutkan bahwa peringkat Indonesia dalam Competitiveness Index and Human Capital masih berada di peringkat 37 dunia dengan nilai 4,5, masih jauh di bawah Singapura yang menduduki peringkat 2, Malaysia di peringkat 18, dan Thailand yang bertengger di peringkat 32. Hal ini menunjukkan bahwa daya saing Perguruan Tinggi di Indonesia juga masih belum menggembirakan.
Prof. Intan Ahmad menambahkan bahwa Negara-negara yang maju peradabannya dan memiliki daya saing tinggi umumnya adalah Negara-negara yang memiliki banyak Perguruan Tinggi (PT) yang berkualitas bagus. Saat ini angka partisipasi kasar (APK) pendidikan Tinggi adalah 27,83%, dengan jumlah mahasiswa kurang lebih 7 juta yang belajar an tersebar di 23.581 Program Studi (Prodi) di seluruh Indonesia. Sementara untuk prosentase lulusan langsung kerja mencapai 60,5%, penerbitan jurnal (publikasi) sebanyak 5.499, masih jauh dibandingkan Malaysia yang sudah mencapai 25.000 publikasi, atau hampir lima kali lipat publikasi peneliti Indonesia.
Ia menyatakan lulusan PT di Indonesia masih memiliki lima kelemahan yaitu kemampuan bahasa Ingris yang rendah, kemampuan kepemimpinan yang belum memadai, kecakapan organisasi yang belum mumpuni, rendah berkomunikasi dan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking), dan rendahnya kemampuan informasi dan teknologi (IT). Hal tersebut secara bertahap diatasi dengan melakukan rekayasa kurikulum KKNI untuk meningkatkan kemampuan literasi dan memasukkan kurikulum kewirausahaan. “Agar makin match kebutuhan pasar dan ketersidiaan lulusan yang berkompeten.” Pungkasnya. (AA)




