Universitas
Islam Malang

Dosen Pasca Sarjana Unisma Sebarkan Metode Berani Menilai Diri Sendiri

Penelitian Drs Junaidi Mistar, M.Pd, Ph.D

 

Lebih baik menilai diri sendiri daripada menilai orang lain. Kalimat bijak ini seringkali mengundang perdebatan banyak orang, termasuk para ilmuwan dan para psikolog sendiri. Mereka berlomba membuktikan kebenaran dan keakuratan kalimat itu.

Di Kota Malang, ada juga seorang peneliti yang mencoba membuktikan kalimat itu. Namanya Drs H Junaidi Mistar, M.Pd., Ph.D, Dosen Program Pasca Sarjana Magister Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Islam Malang (Unisma).

Kepada Surya, Junaidi, sapaannya bercerita tema tersebut diambil untuk membuktikan seberapa efektif penilaian terhadap diri sendiri. Ia juga berfikir lebih jauh lagi dengan mencoba apakah penilaian semacam ini juga bisa membantu penilaian guru terhadap pemahaman seorang siswa di kelas, di rumah atau di lingkungan sekitar. Junaidi menjelaskan penelitian yang dilangsungkan pada tahun 2011 ini menggunakan 78 sample. Mereka adalah orang-orang dari berbagai Negara yang tengah belajar Bahasa Inggris di Pusat Pelatihan Bahasa di Michigan State University, Amerika Serikat, dan berusia18 hingga 57 tahun.

Mereka selanjutnya diminta mengisi kuesioner sederhana yang berisi tingkat kemahiran menggunakan bahasa Inggris dalam mendengarkan, berbicara dan kemampuan berinteraksi lainnya. Tiap item pertanyaan ini diberi tingkatan 1 hingga 10, sesuai dengan tingkat pengetahuannya sendiri. Penilaian diri sendiri, selanjutnya dibandingkan dengan nilai tes mereka diakhir semester. “Hasilnya mereka yang merasa tahu banyak, dan yakin mendapat nilai baik ternyata memiliki nilai baik,” kata pria kelahiran Malang, 4 april 1967 ini, Jumat (7/3).

Begitu juga dengan seterusnya. Mereka yang merasa pengetahuannya sedang-sedang akan memiliki nilai yang sedang. “Dan mereka yang merasa pengetahuannya sedikit juga akan mendapat nilai jelek,” tegasnya. Hasil ini sangat menarik. Selain memiliki kesamaan dengan penilaian system raport di akhir semester, juga karena penelitian ini tidak membahas tingkat kejujuran seseorang. Maksudnya, mereka yang tidak jujur dalam memberikan pernyataan dalam kuisioner itu juga menghasilkan kesimpulan yang sama. Tak heran jika penelitian ini selanjutnya diakui oleh berbagai Negara bagian Amerika Serikat, tempat Junaidi melakukan penelitian. Penelitian berjudul A study of the validity and reliability of self assement ini sudah dikeluarkan dalam Jurnal Teflin pada 2011 silam.

Tak hanya itu, penelitian ini juga banyak menjadi bahan acuan para peneliti selanjutnya di bidang pelajaran lainnya. Penelitian ini juga menjadi salah satu penelitian yang sedang dipelajari oleh pemerintah pusat sebagai acuan untuk mengukur kemampuan seorang siswa dalam belajar. Junaidi menjelaskan self assement ini membuka pemahaman baru, siswa bisa jadi memiliki pengetahuan yang sama dengan guru. Sehingga, protes seorang siswa akan nilai buruk yang diberikan guru menjadi perlu segera ditindaklanjuti karena siswa tersebut bisa jadi memiliki pemahaman yang luas.

Begitu juga dengan orang tua, seringkali seorang anak disepelekan tingkat pengetahuannya. Padahal itu juga tidak benar-benar betul. Bisa jadi anak itu paham, tapi sungkan menyampaikan pendapatnya.

“Saat ini orang tua atau guru harus meninggalkan pola pikiran lama. Saat ini guru bukan satu-satunya orang di kelas yang paham sesuatu dan anak saat ini harus berani menilai dirinya sendiri,” ungkap pria menyelesaikan study S3 di Monash University, Amerika Serikat ini. (Sumber : Surya)

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn