MALANG. Sabtu, 5/03/2016, Dewan Pembina Yayasan Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar acara sarasehan. Acara sarasehan bertajuk Paradigma Islam Global dan Pengembangan Unisma, yang dilangsungkan di Ruang Sudang rektorat, Gedung Umar Bin Khottob tersebut menghadirkan narasumber anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) sekaligus anggota Dewan Pembina Yayasan Unisma, Dr. KH. A. Hasyim Muzadi. Rektor Unisma, Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si, dalam sambutannya menyatakan bahwa Unisma, sebagai Perguruan Tinggi yang lahir dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) berkepentingan menjaga warisan Ahlusunnah Waljama’ah yang sudah dikembangkan oleh para pendiri NU. “Kami bertekad kuat meneruskan ajaran Aswaja dan menyebarkannya seantero dunia, khususnya melalui jalur pendidikan tinggi,” tukasnya. Ia berharap KH. Hasyim Muzadi dapat memberikan pengetahuan serta pengalamannya dalam menyebarkan ajaran Aswaja di tengah globalisasi dan isu transnasional yang tengah membelit dunia.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, tersebut menyatakan bahwa fenomena transnasional yang saat ini terjadi membuat batas antarnegara kian sempit. “Hal tersebut mengakibatkan mudah sekali pemahaman asing, khususnya pemahaman terhadap Islam yang berbeda dengan yang sudah kita pelajari di Indonesia, masuk dan berkembang,” ujarnya mengawali sesi utama sarasehan. Paham Islam dari Arab Saudi masuk bersamaan dengan berbagai kepentingan, termasuk kepentingan penyebaran ideologi, propaganda pemahaman Wahabi, dan termasuk sistem politik. Hal ini menyebabkan banyak sekali aliran masuk, termasuk paham Islam yang menghalalkan kekerasan dalam berdakwah. Fakta ini menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh ummat Islam Indonesia, termasuk kalangan NU. “Kita masih saja sibuk mendengungkan konsep Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin saja tanpa mempraktikkannya seperti yang sudah dilakukan Negara-negara yang dianggap lebih Islami dibandingkan Negara Islam sendiri, seperti Selandia Baru.” Katanya.
Hal ini menyebabkan Indonesia rentan menjadi tempat singgahnya berbagai macam aliran Islam yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang sudah digali oleh para pendahulu dan perintis NU. “Mulai dari Islam garis keras hingga liberal, ada di Indonesia dan berkembang dengan macam-macam spektrumnya. Meski Indonesia masih dikategorikan sebagai Negara yang relatif aman, kita harus bekerja keras mengokohkan ajaran Aswaja yang sangat cinta kedamaian. JIka tidak, kita akan tercabik-cabik seperti negeri-negeri Timur tengah yang saat ini tercebur konflik seperti Suriah.” Ia juga menyatakan agar Indonesia kembali menggali khazanah Keislaman Indonesia untuk menangkal radikalisme. Sejalan dengan pemikiran tersebut, Prof. Dr. H. Achmad Sodiki, Guru Besar Ilmu Hukum Unisma mengingatkan agar Indonesia dapat merumuskan nilai-nilai HAM Indonesia sendiri. “Agar kita tidak senantiasa terkooptasi nilai-nilai HAM yang diimpor dari Negara asing.” Sementara, anggota Dewan Pembina Yayasan Unisma yang lain, Prof. Dr. H. Imam Suprayoga menyatakan agar Unisma menjadi pelopor kajian ilmiah Islam Aswaja yang bernapaskan Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin. “
Dalam era perang persepsi global seperti saat ini, Indonesia harus melaksanakan ekonomi yang demokratis dalam pengertian sama-sama merasakan. “Artinya kemakmuran itu dirasakan semua lapisan masyarakat Indonesia,” tambah KH. Hasyim Muzadi. Selanjutnya memperbanyak situs-situs yang berisi kajian Islam Aswaja agar dibaca banyak pihak, menjadikan sekolah-sekolah Islam, termasuk Unisma sebagai institusi yang terintegrasi keilmuannya dengan ajaran Islam. “Buatlah Indonesia imun (kebal) dari serbuan ajaran asing yang akan mencabik-cabik kedaulatan Indonesia sebagai bangsa yang mayoritas muslim.” Pungkasnya. Pendiri sekaligus ketua Dewan Pembina yayasan Unisma, Prof. Dr. KH. Tholhah Hasan mengingatkan agar Unisma mampu membumikan Islam bukan sekedar sebagai ajaran agama tetapi juga Islam sebagai sebuah peradaban. “Itu PR Unisma yang harus mampu diselesaikan dengan baik oleh seluruh sivitas akademika Unisma.” Tutupnya. (AA)




