Universitas
Islam Malang

Prof. Dr. Phil. NUR KHOLIS: GURU PAI PERKUAT KOMPETENSI HADAPI MEA

Malang, Jumat (22/01/2016) Program Pascasarjana (PPS) Universitas Islam Malang (Unisma) mengadakan acara Kuliah Umum. Acara ini dilaksanakan di ruang sidang Gedung Umar bin Khotob berlangsung dari pukul 14.00-16.00 WIB. Kuliah umum tersebut mengangkat tema “Peran Guru Agama dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan dan Pembelajaran menghadapi Asean Economic Community” dengan menghadirkan langsung Prof. Dr. Phil. Nur Kholis Setiawan, MA, Direktur Pendidikan Madrasah, Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI.

Wakil Rektor (Warek) I Unisma, Drs. H. Junaidi Mistar, P.hD menyatakan bahwa peserta kuliah tamu tersebut adalah mahasiswa program magister Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam dan Prodi Doktor Multikultural PPS Unisma, yang 40 diantaranya merupakan penerima beasiswa Kemenag RI. Warek I Unisma menyatakan Unisma siap menerima kembali mahasiswa baru yang mendapatkan beasiswa Kemenag RI. Sementara Direktur Pascasarjana Unisma, Prof. Dr. Ir. Agus Sugianto, menyatakan bahwa mahasiswa penerima beasiswa Kemenag RI sejauh ini melakukan tugas belajarnya dengan penuh tanggung jawab. “Kami mendorong mereka untuk bisa merampungkan studi secar a bersama-sama dan terus menjaga ritme semangat menyelesaikan studi.”

Nur Kholis Setiawan, Guru besar yang menyelesaikan studi doktoralnya dari Oriental and Islamic Studies Universitas Bonn Jerman tersebut memulai paparannya mengenai dunia yang kian mengecil. Jarak bisa diatasi dengan teknologi. Dunia menjadi tempat yang kian global, saling terhubung, dan ketergantungan antarnegara kian tinggi. Maka Masyarakat Ekonomi Asean (MEA/AEC) adalah keniscayaan. Dalam konteks tersebut, peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi strategis. Perusakan lingkungan, kejahatan kerah putih (white collar crime), serta radikalisme menjadi fenomena yang tak henti terjadi.

Dosen UIN Sunan Kalijaga Jogyakarta tersebut menggarisbawahi peran guru agama dalam meningkatkan kualitas pendidikan sehingga menghasilkan lulusan yang pintar dan benar. Ia menekankan bahwa pembelajaran harus kreatif dan inovatif yang dapat dilakukan dalam pembelajaran fiqih. “Pembelajaran fiqih dapat meningkatkan intelektualitas sehingga peserta didik berani kreatif dan berani bertanggung jawab.” Tuturnya. Selain pembelajaran fiqih, pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) perlu diajarkan supaya dapat menjadi teladan dari kejayaan di masa lalu dan mengambil hikmah yang dapat dipetik untuk kehidupan. Aqidah akhlak juga penting diajarkan kepada siswa, karena dengan berbekal akhlakul karimah lulusan dapat menjadi seorang pemimpin yang jujur dan bertanggung jawab. Untuk tugas guru selanjutnya yaitu melahirkan murid yang percaya diri dan bertanggung jawab, guru dapat memberikan inspirasi bagi siswa sehingga dapat mengahsilkan murid yang pintar dan benar. (uni)

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn