MALANG- Semangat untuk menunjukkan bahwa lulusan pesantren bisa maju, membuat Vina Zahirotul Izzah terpacu mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang. Bahkan berkat semangat tersebut ia mampu membuktikan menjadi wisudawan terbaik Unisma dalam gelaran wisuda yang digelar Sabtu (25/4).
“Selama ini para santri seringkali dianggap masih kurang berkualitas dalam hal pendidikan dibandingkan dengan siswa sekolah umum. Karena itulah saya ingin membuktikan bahwa seorang santri pun bisa berprestasi,” ucap peraih IPK 2,95 dari Program Pendidikan Profesi Dokter ini.
Justru menurutnya dasar pendidikan di pesantren MTs Tambak Beras Jombang dan MA Al Maarif Singosari semakin menjadikannya seseorang yang lebih berpotensi. Hal itu karena proses pendidikan di pondok pesantren yang penuh kedisiplinan dan terbiasa dengan pembelajaran dengan porsi banyak sehingga tidak kaget ketika masuk di FK Unisma.
Mahasiswa kelahiran Pasuruan, 7 Juli 1989 ini pun bersiap akan melanjutkan program internship dokter layanan primer selama satu tahun agar benar-benar siap mengabdikan diri sebagai dokter. Menurutnya program internship yang baru diberlakukan oleh pemerintah ini cukup bagus karena akan menambah pengalaman bagi dokter, walaupun pada akhirnya keinginan untuk membuka praktik harus menjadi lama.
Sementara itu, lulusan terbaik dari Fakultas Peternakan, Finna Kurniasih mengaku cukup bangga dengan gelar yang ia dapatkan dari Unisma. Peraih IPK 3,96 ini selama kuliah dibiayai oleh Pemkot Singkawang melalui jalur beasiswa penuh bahkan juga mendapatkan uang saku. Meski sebenarnya dahulu ia diterima di Universitas Kalimantan melalui Program Bidik Misi dan mendapatkan beasiswa di dua kampus lainnya, ia tetap memilih Unisma untuk menempuh pendidikan.
“Ketertarikan saya pada Unisma karena saya melihat pembelajaran di Unisma sangat bagus, selain mendapatkan pendidikan akademik kami juga mendapatkan pembelajaran keagamaan,” ucapnya.
Sementara itu, Wakil Rektor III Unisma, Badat Muwakhid mengatakan pada Wisuda Program Sarjana, Profesi dan Pascasarjana Period eke- 53 ini, Unisma melepas 368 sarjana. “Ada yang beda di wisuda kali ini, karena para sarjana untuk pertama kalinya mendapatkan SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijasah, red),” ucap Badat.
SKPI tersebut, imbuhnya bisa menjadi nilai tambah bagi mahasiswa karena dalam SKPI ini mencantumkan pengalaman dan kompetensi mahasiswa di luar ilmu akademik yang telah didapat. SKPI ini merupakan program baru dari pemerintah yang sebenarnya baru akan diwajibkan pada tahun 2016 mendatang namun Unisma sudah mengawalinya. Ia berharap dengan SKPI ini lulusan Unisma akan lebih siap menghadapi dunia kerja yang persaingannya semakin berat di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mendatang..nia-KP




