Universitas
Islam Malang

Unisma Menyelenggarakan Workshop Kajian Islam Keaswajaan

Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam di lingkungan kampus, Universitas Islam Malang (Unisma), Jawa Timur, menggelar workshop untuk dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Islam di lingkungan Unisma.

Menurut penyelenggara workshop dari Lembaga Pengkajian Islam dan Keaswajaan (LPIK) Unisma, Drs. H. Ali Ashari, M.Pd, kegiatan ini untuk menyamakan konsep pembelajaran Agama Islam. Tidak hanya ketauhidan dan syariat, tapi lebih ditekankan penanaman ideologi dan dan implementasi nilai-nilai keaswajaan.

Selain itu, workshop ini juga untuk membahas kurikulum terbaru yang disesuaikan dengan kondisi kekinian, baik dari sisi metode maupun materi.

Acara ini dibuka oleh Rektor Unisma Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si, didampingi wakil rektor 2 dan 3 di lantai 4 gedung Yayasan Unisma Senin (23/1/2017). Bertindak sebagai narasumber adalah Prof. Dr. KH. Moh. Tholchah Hasan, Dr. H. Anwar Sadullah, M.PdI, dan Dr. Ir. H. Badat Muwahid, MP.

Dalam sambutannya, rektor menyatakan jika pengetahuan tentang ahlak untuk perilaku harus menjadi hal penting bagi para dosen pengampu matakuliah agama Islam. Untuk itu, diperlukan strategi pembelajaran dan pengembangan kualitas materi pembelajaran. Di samping itu, kajian terhadap materi agama tidak sekedar kajian tetapi juga dilakukan dengan muatan suri tauladan.

Rektor menegaskan pada peserta bahwa Unisma harus dipandang sebagai perguruan tinggi yang menjadi garda terdepan pendidilan NU di Indonesia. Karenanya, dosen agama harus membangun habitus yang menjadi karakter utama dalam mengembangkan budaya kampus yang Islami.

Atmosfer keagamaan harus dibangun dari berbagai sisi, baik sisi karakter pendidikan, keagamaan, keperilakuan dan kajian keilmuan. Tak hanya itu, karakter spiritual yang kuat harus menjadi pondasi utama dalam membangun mental yang kuat di kalangan mahasiswa.

Dosen juga dituntut punya citra yang baik dalam mengajar dan menjadi suri tauladan yang baik untuk membangun budaya kampus yang islami.

Konten pengetahuan dan materi agama Islam yang diajarkan pun senantiasa harus menjadi pengetahuan bagi mahasiswa. Hal ini untuk mencegah tangkal radikalisme dan liberalisme keperilakuan di lingkungan kampus Unisma.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn