MALANG-Menyikapi ketergantungan masyarakat terhadap obat-obatan modern, Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (FK Unisma) mengembangkan saintifikasi tanaman jamu atau herbal medicine. Hal ini diungkapkan Dekan Unisma, Dr. Hardadi Airlangga, SpPD, kepada Malang Post ditemui di ruang kerjanya kemarin.
“Kami ingin melahirkan dokter professional berwawasan keanekaregaman hayati. Untuk itu, kami menggerakkan mahasiswa untuk menggiatkan penelitian tentang tanaman jamu ini,”ujar Hardadi.
Meski belum berbentuk produk, hingga saat ini ratusan penelitian tentang berbagai tanaman obat sudah dikantongi oleh FK Unisma. Misalnya, efek ekstrak etanolik daun ubi jalar ungu terhadap kadar MDA dan kadar SOD jaringan otot skelet mencit dengan aktifitas fisik maksimal. Penelitian tersebut sudah diujikan terhadap tikus percobaan dan berhasil.
Selain itu, ada pula penelitian tentang ekstrak jinten hitam sebagai anti depresan, dan berbagai penelitian lain yang memanfaatkan tanaman jamu.
“Untuk memaksimalkan penelitian, kami juga bekerjasama dengan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional di Tawangmangu,”ungkap dokter spesialis penyakit dalam tersebut.
Obat-obatan herbal yang digunakan oleh dokter diklinik saintifikasi jamu RS Islam Unisma, menurut Hardadi, didatangkan langsung dari balai besar dan dikelola oleh dokter khusus di RSI Unisma. Selain itu, FK unisma juga bekerjasama dengan fakultas-fakultas lain di kampus tersebut seperti Fakultas MIPA dan Pertanian terkait pengembangan tanaman, dan fakultas Peternakan dalam hal pembiakan hewan percobaan.
“Selanjutnya, sebagai persiapan kami mewujudkan penelitian dalam bentuk produk, kami juga akan bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi untuk pengemasan dan pemasaran obat herbal ini,”lanjut Hardadi.
Pria yang menjabat sebagai Kepala RS Muslimat Singosari tersebut mengaku optimis, jika program saintifikasi tanaman jamu tersebut mendapat respon pemerintah, dominasi obat-obatan modern perlahan akan terganti dengan tanaman obat yang dapat diperoleh masyarakat dari lingkungan sekitar. Bentuk dukungan tersebut, menurut Hardadi, dapat berupa kerjasama pengembangan lahan tanaman jamu atau mengakomidir pengobatan herbal dalam BPJS Kesehatan.
“Di balai besar, pasien klinik saintifikasi jamu sudah mencapai 200 orang perhari. Sedangkan di klinik kami masih 6 orang perhari. Kami berharap, ke depannya saintifikasi jamu Unisma akan menginspirasi fakultas kedokteran di kampus-kampus lain untuk melakukan hal serupa, agar keanekaragaman hayati lokal dapat dimanfaatkan dengan optimal,”tandas Hardadi. (ily/adv/oci)




