Malang. Radikalisme atas nama agama (baca: kekerasan atas nama agama) kerap menjadi pembenar untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain yang dianggap berbeda. Fenomena ini sangat memprihatinkan, utamanya di kalangan orang muda. Paham keliru tersebut, tidak saja muncul di Timur Tengah, tetapi juga di Indonesia. Sebagai Universitas Islam yang mengusung nilai-nilai Aswaja dan bernapaskan Nahdlatul Ulama, Universitas Islam Malang (Unisma) berkepentingan membentengi radikalisme tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggandeng Global University of Lebanon.
Kerjasama dengan Global University of Lebanon tersebut juga dimaksudkan untuk mengukuhkan Unisma menjadi kampus kelas dunia yang mampu menampilkan wajah Islam yang ramah, demikian tegas rektor Unisma, Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si, dalam sambutannya, Selasa 25 Agustus 2015. Pernyataan tersebut disampaikan rektor Unisma saat menerima kedatangan perwakilan dari Global University of Lebanon, Syeikh Thoriq Ghannam, di ruang sidang rektorat Unisma.
Syeikh Ghannam mengingatkan, Nahdlatul Ulama yang artinya Kebangkitan Ulama, yang jika ditilik dari sejarah kemunculannya bertujuan untuk memerangi radikalisme atas nama agama. Maka spirit itulah yang seharusnya dijaga oleh Unisma. Dalam kesempatan tersebut, Unisma diberi kesempatan oleh Global University of Lebanon untuk melakukan pengayaan materi kajian tentang ke-Aswajaan NU yang murni, baik untuk mahasiswa maupun dosen Unisma, melalui penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MOU) antara Unisma dengan Global University of Lebanon. “Saya tidak ingin kerjasama ini hanya di atas kertas, tapi harus secepatnya direalisasikan dalam bentuk yang lebih konkrit. Kami siap pula memfasilitasi pengajaran bahasa Arab, karena mempelajari bahasa Arab sangat penting, supaya pemahaman Islam dapat diteliti dan dikaji secara menyeluruh.” Pungkasnya.




