
Malang. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang diberlakukan Desember 2015, membuat Universitas di tanah air mempererat jaringan dengan Universitas di negara-negara lain. Prince of Songkhla University (PSU), Thailand, menggandeng Universitas Islam Malang (Unisma), khususnya dalam membuka program kajian ASEAN (Asean Studies) yang akan dibuka pada 2016 mendatang.
Program tersebut akan mengajarkan bahasa dan budaya dari setiap negara di ASEAN. Tujuannya agar dipelajari mahasiswa yang mengambil program tersebut. Prof. Sontaya Anakasiri menyatakan bahwa pengenalan budaya dan bahasa negara di ASEAN merupakan keunggulan program ini. Prof Sontaya merupakan Dekan Fakultas Kajian Internasional, PSU. Menurutnya, Malang lebih kental dengan unsur Indonesia, dan iklim akademik kota Malang terbangun dengan relatif baik. “Kalau di Jakarta, saya tidak temua suasana khas Indonesia, karena sama saja seperti di Bangkok dan kota besar lainnya.” Demikian ungkapnya, di sela-sela penandatanganan nota kesepahaman antara Fakultas Kajian Internasional, PSU, kampus Phuket, Thailand dengan Unisma, Senin, 12/11/15, di ruang sidang Rektorat Unisma.
Untuk program tersebut, mahasiswa wajib menjalani 300 jam pelajaran agar dapat meraih gelar bachelor of art (BA). Prof Sontaya mengatakan bahwa persaingan dan perubahan global yang cepat adalah isu yang melatari pembukaan program kajian ASEAN. Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan intelektualitas dan menjawab kebutuhan pendidikan saat ini.
Untuk menindaklanjuti nota kesepahaman tersebut, Rektor Unisma beserta Wakil Rektor I, Drs. H. Junaidi Mistar, M.Pd, Ph.D, Wakil Rektor II, Drs. H. Noor Shodiq Askandar, MM, dan Wakil Ketua Umum Yayasan Unisma, Dr. A. Munir, bertolak ke kampus PSU, Thailand untuk membicarakan lebih lanjut perjanjian kerjasama yang bakal dijalankan kedua belah pihak. Rombongan Rektorat dan Yayasan berangkat ke Thailand pada Minggu, 15/11/15 hingga Rabu, 18/11/15.
Selain melakukan penandatanganan kesepahaman dengan pihak PSU, rombongan Unisma yang dipimpin oleh Rektor Unisma juga berkesempatan melakukan pertemuan dengan Duta Besar Indonesia di Thailand, Lutfi Rauf saat membuka (Pusat Indonesia) Indonesian Centre di kampus PSU, Phuket, Selasa, 17/11/15. Unisma juga menyumbangakan pustaka hasil tulisan Dosen Unisma untuk Indonesian Centre. Rektor Unisma, Prof. Dr.H. Maskuri, M.Si mengatakan dengan kerjasama ini Unisma akan mengirimkan dosen untuk menjadi pengajar di Program Kajian ASEAN, mengirimkan mahasiswa Unisma untuk program pertukaran mahasiswa, dan sebaliknya. Diharapkan kerjasama ini akan meningkatkan kualitas dan memantaskan langkah Unisma sebagai Perguruan Tinggi berkelas internasional. “Ini salah satu upaya kita memantapkan langkah Unisma sebagai Perguruan Tinggi berkelas Internasional. Ke depan kita akan lebih banyak menjalin kerjasama luar negeri dengan Universitas ternama lainnya di manca negara.” Pungkasnya.
Agenda lainnya adalah mengunjungi komunitas muslim di Moslem Wittaya Phuket School, dan bertemu dengan Dewan penasehat Pusat Halal dai Pattaya. Selain itu, rombongan Unisma juga berkesempatan mengunjungi Rawai Community Based Tourism. Kesempatan ini tentu menjadi pengalaman berharga bagi Unisma, mengingat di tingkat ASEAN, Thailand merupakan negara yang terkemuka di bidang industri turisme.




