Malang – Universitas Islam Malang (UNISMA) dalam menyambut penerimaan mahasiswa baru (PNB) tahun ajaran 2014/2015 semakin moncer saja. Tak aneh bila kampus ternama di Malang ini menjadi rebutan lulusan sekolah menengah atas maupun sekolah menengah sederaja untuk bisa masuk di kampus Multikultural tersebut.
Bukan hanya sebagai junjungan tukar dosen maupun mahasiswa Timur tengah dan Asia tenggara, tapi juga jadi rebutan instansi pemerintah serta dunia usaha untuk melakukan kerja sama dengan kampus yang konon masuk jajaran 5 kampus terbesar nasional ini.
Seperti yang baru-baru ini dilakukan, yakni kampus ini menjadi ajang dunia dengan menjadi tuan rumah pertemuan 5 pakar matematika dunia dari lima Negara, selanjutnya dengan menjadi tuan rumah monev PKM (pengabdian, wirausaha, cinta karya) yang diikuti 106 PTN/PTS se-jawa timur.
Dan yang paling gress, penghargaan serta amanat yang diterima Unisma adalah menjadi salah satu dari lima kampus se-indonesia . Di Jawa Timur hanya Unisma yang mendapat kesempatan melakukan rekruitmen tenaga kerja lulusan minimal SLTP untuk di kirim ke korea.
Menurut pembantu Rector 3 pidang promosi dan kerja sama Unisma Prof.Dr.H. Masykuri Bakri, MSi yang dihubungi lewat kabag Humas Unisma Pardiman, SE,MM mengakui bahwa kampus hijau Unisma sudah lama menjadi incaran pemerintahan dalam negeri maupun mancanegara untuk diajak kerja sama demi kemaslahatan umat, “Salah satu bukti dari sekian Mou yang telah dilaksanakan adalah Mou dengan balai Bahasa dan BNP2TKI (Balai Nasional Penempatan dan Pengawasan Tenaga Kerja Indonesia) untuk melakukan penyaringan tenaga kerja yang akan dikirim ke korea. Alhamdulilah tahun ini jumlah peserta yang ikut mendaftar tembus 6.600 orang, yang berasal dari kota-kota di Jawa Timur. Padahal tahun lalu hanya 2.300 yang mengikuti rekruitmen ke korea tersebut,” tutur Profesor Ilmu pendidikan Islam yang baru di lantik itu bangga.
Ditambahakan oleh pria kelahiran Tuban tersebut, berbondong-bondong calon tenaga kerja Indonesia dalam dua tahun terakhir ini sangat besar peningkatanya,”Malahan orang mencari kerja ke luar negeri sangat tinggi antusiasnya. Masak hanya satu tahun aja peningkatannya sudah tiga kali lipat. Yang ikut paling banyak jebolan perguruan tinggi negeri, peringkat kedua SMA, SMK, dan SMP. Untuk itulah Unisma mengutamakan kulitas ketimbang kuantitas untuk penerimaan mahasiswa baru. Selain itu juga penyesuaian saran dan prasaranan yang ada di kampus. Bukan pakai aji mumpung , salah satu contohnya tahun kemari yang daftar tembus 3.000 mahasiswa, setelah ikuti seleksi dan sesuai target hanya diterima 1.250, dan tahun ini kami targetkan hanya 1.350. Padahal menurut data yang ada di panitia PMB sudah ada 2.000 pendaftar hingga juni ini,” paparnya berharap.
Di lain kesempatan Haposan Saragih, wakil dari BNP2TIK jatim yang ditemui saat melakukan tes tulis di kampus Unisma kemarin mengatakan bahwa 6.600 pendafta yang berasal di kota-kota di Jawa Timur yang harus ikuti tes tulis serta wawancara untuk bias lolos ke Negara korea. “Dari jumlah yang mendaftar siapa dan berapa yang lulus, ialah yang berhak berangkat untuk kerja di korea sesuai jenjang pekerjaan yang di minati sesuai aplikasi yang diisi. Jadi tak ada jatah atau target berapa yang harus dikirim,”katanya singkat.
Begitu banyaknya jumlah, lanjut pria tinggi besar ini salah satunya karena gaji perbulan kerja di korea mencapai 10juta. ‘’Kalau dibandingkan dengan gaji di Indonesia atau jatim jelas hanya 1,2 juta setiap bulanya jelas tidak sebanding dengan jam kerjanya . Makanya tak salah jika mereka mau kerja keras antre, dan menginap di sini hanya untuk lulus dan bias kerja di korea,’’ tandasanya.
Sementara Rektor unisma, Prof.Dr.H. Surahmat, MSi saat dikonfirmasi tentang balai di Bahasa dan Mou dengan BNP2TIK itu, ditandaskan bahwa itu adalah salah satu yang menjadi dasar para orang tua wali se-nusantara dan mancanegara mau mengamanatkan anaknya menimbah ilmu di Unisma. “sebab visi dan misi Unisma selain keilmuannya untuk kemaslahatan untuk keselamatan umat, juga para alumninya berharap jadi sarjana yang bermartabat. Artinya, meski setinggi apapun ilmu dan gelar yang disandingnya tak akan berguna bila bukan untuk kepentingan umat dan bangsanya, Insyaallah,” tutur rector yang piawai lakukan riset yang sudah diaku dunia ini.




